Artikel

JADILAH PENGIKUT YANG BAIK SEBELUM MENJADI PEMIMPIN YANG HEBAT

JADILAH PENGIKUT YANG BAIK SEBELUM MENJADI PEMIMPIN YANG HEBAT

Kita begitu lama terbuai oleh kata leadership, bagaimana memimpin orang lain. Lha, kalau semua menjadi leader, siapa yang akan follow? Jika sekarang kita mencari kata “leadership” di Google, maka akan muncul 618 juta lema. Dan jika kita mengetikkan kata “followership”, hanya akan ada sekitar 1.350 ribu lema. Jadi, memang kata leadership itu lebih popular daripada kata “followership”.

Meskipun sudah menjadi leader, pasti juga masih punya bos lagi di atasnya. Country Director sebuah perusahaan asing harus bertanggung jawab kepada Regional Director. Jika Anda di perusahaan nasional, Direktur Utama harus bertanggung jawab kepada Komisaris dan juga para pemegang saham.

Anda akan menjadi pemimpin yang baik jika Anda juga pengikut (bawahan) yang baik. Followership adalah bagaimana kita menyelaraskan tindakan-tindakan kita agar sesuai dengan tujuan perusahaan dan arahan bos kita, agar kinerja tim kita menjadi efektif.

Followeship sendiri bisa dilihat dari dua perspektif: Relationship (relasi) dan Performance (kinerja). Kita bisa mengategorikan follower menjadi 4 kelompok:

  1. Kinerja rendah, Relasi rendah, kita sebut Orang Suruhan (The Subordinate)
  • Pada kategori ini karyawan hanya berfokus pada mengikuti perintah atasan.
  • Karyawan tidak punya ekspektasi apa-apa pada atasan.
  • Biasanya, komitmennya sangat sedikit pada kinerja ataupun pada relasi (hubungan)
  • Biasanya, follower dalam kategori ini tidak akan melakukan upaya ekstra dalam pekerjaannya (hanya melakukan yang minimum sekedar memenuhi tuntutan kontrak kerjanya).

 

  1. Kinerja rendah, Relasi tinggi, kita sebut Politisi (The Politican)
  • Karyawan pada kategori ini lebih berfokus pada menjaga relasi daripada meningkatkan kinerja.
  • Pada jangka pendek, leader dan follower mungkin akan merasa nyaman dengan suasana seperti ini.
  • Tetapi, karena kinerja yang menurun, lama-lama akan menjadi isu yang serius pada perusahaan.
  • Yang harus dilakukan adalah fokus pada memahami gambaran besarnya, meningkatkan kinerja sambil tetap menjaga relasi.

 

  1. Kinerja tinggi, Relasi rendah : Kontributor (The Contributor)
  • Pekerja keras dan biasanya dikenal sebagai penghasil karya berkualitas tinggi.
  • Berprestasi di pekerjaanya karena keahlian yang dia punya.
  • Tidak berfokus pada keterampilan interpersonal dan relasi dengan yang lain
  • Cenderung tidak membagikan pengetahuan dan keahliannya
  • Seharusnya follower di sini berpindah ke level Mitra, dengan tetap menjaga kinerja, tetapi mengubah perilaku dalam segi relasi.

 

  1. Kinerja tinggi, Relasi tinggi: Mitra (The Partner)
  • Memiliki kompetensi dan komitmen untuk tugas-tugasnya sambal tetap mementingkan kinerja.
  • Fokus pada memahami dan membagikan tujuan leader dan menggunakannya untuk berfokus pada tugas-tugasnya (menuntaskan tugasnya sebagai bagian dari gambaran bear tanggung jawab leader-nya)
  • Terus-menerus mengembangkan relationship yang positif di setiap level manajemen, tanpa menurunkan tingkat kinerjanya.
  • Dengan cara yang positif, mengambil peran sebagai penantang gagasan-gagasan sang bos, dengan memberikan umpan balik positif demi kemajuan.
  • Biasanya, kategori ini diisi oleh karyawan-karyawan yang memiliki rekam jejak kinerja tinggi yang sering melihat sesuatu dengan koteks gambaran besar organisasi.

Mari kita amati lagi setiap kategori. Dan mari kita evaluasi di kategori mana kita berada. Tentu saja, hanya ada satu kategori yang akan berakibat positif pada karier kita, yaitu kategori Mitra, The Partner (Relasi tinggi – Kinerja tinggi).

Hanya ada dua pilihan untuk para professional: tetap tinggal (dan berkomitmen penuh) atau keluar. Sangat tidak professional jika tetap tinggal di perusahaan, tapi tidak berkomitmen penuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Live and get success with TRUST