Artikel

Tangga Motivasi-part 1 (Oleh: Dedi Hermawan, S.Psi.,MM.,CPHRM)

Tangga Motivasi-part 1 (Oleh: Dedi Hermawan, S.Psi.,MM.,CPHRM)

siklus motivasi, tangga motivasi

Motivasi

 

Pembahasan mengenai motivasi tidak pernah berhenti dari waktu ke waktu, karena motivasi bukanlah sesuatu yang abadi. Kadang-kadang motivasi kita dalam kondisi prima, namun beberapa hari kemudian mengalami penurunan. Oleh karena itu motivasi harus senantiasa diperbaharui seperti halnya dengan kondisi keimanan kita”Iman itu kadang naik kadang turun maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.”(HR Ibn Hibban).

Ada kondisi yang memprihatinkan terkait dengan motivasi kerja.  Gallup Worldwide (sebuah lembaga riset internasional) melakukan survei tentang motivasi kerja karyawan yang dilakukan terhadap 73 ribu responden dari 141 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Hasil riset Gallup itu menunjukkan hanya 8% karyawan di Indonesia yang benar-benar memiliki level engagement yang tinggi, komitmen dan motivasi kuat dengan pekerjaannya. Sisanya 92 % hanya melakukan pekerjaannya dengan begitu-gitu saja : (ia berangkat kerja, tugas selesai, kemudian pulang, dan akhir bulan menerima gaji).

Di dunia, hasilnya juga relatif sama, hanya sekitar 13% yang punya high engagement level dengan pekerjaannya.

Mengapa mayoritas karyawan di Indonesia dan dunia tidak memiliki motivasi yang begitu kuat terhadap pekerjaannya ?Kira-kira ada tiga faktor kunci yang bisa menjelaskan kondisi tersebut, yaitu :

  1. Rendahnya gaji

Hampir selalu faktor ini yang membuat motivasi karyawan meleleh. Ia merasakan beban kerjanya banyak, berangkat kerja pagi,pulang petang, macet dijalanan, sudah begitu, gajinya pas-pasan untuk hidup. Padahal studi-studi ilmiah tentang human capital telah menunjukkan, faktor salary yang kompetitif merupakan salah satu elemen kunci penentu kejayaan sebuah bisnis.

  1. Pekerjaan yang membosankan

Banyak karyawan yang mungkin motivasinya layu karena pekerjaannya monoton, repetitif, membosankan dan tidak ada tantangan lagi. Padahal jiwa kita hanya akan tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pekerjaan. Saat pekerjaan kita mekar dan menawarkan beragam tantangan yang menarik, jiwa kita akan ikut mekar.

Sebaliknya, jika pekerjaan kita monoton dan membosankan, pelan-pelan jiwa kita akan ikut stagnan. Gairah pertumbuhan diri akan ikut meredup.

3. Karir yang stagnan

Jalan karirnya sama seperti jalanan saat pulang kerja: macet dan padat merayap. Sense of progress adalah kata kunci yang menentukan level motivasi seseorang. Hanya dengan sense of progress orang masih tetap bisa memiliki harapan dan motivasi. Sebaliknya, saat  sense of progress itu lenyap, maka harapan seseorang juga pelan-pelan pudar. Dan saat harapan telah benar-benar hilang, sesungguhnya jalan cerita kita juga sudah usai. Tidak ada motivasi lagi untuk melanjutkan sejarah kehidupan. Itulah yang terjadi dengan kemandekan karir atau tidak adanya sistem dan jenjang karir yang jelas. Tak ada lagi  sense of progress atau pergerakan karir yang meningkatkan harapan dan motivasi.

[Bersambung]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill all widget settings!